/ meracau

Idulfitri: Antara Memaafkan Masa Lalu dan Kamu yang Kini Telah Berlalu

Idulfitri selalu identik dengan saling memaafkan. Tapi bagaimana dengan nasib masa lalu? Apakah sudah termaafkan?

Dulu, aku pernah bertemu kamu. Kita duduk semeja sambil menikmati angin malam. Apakah kamu masih ingat? Kamu adalah alasan aku ada di kota ini. Aku memang tak pernah berjanji untuk menjadikanmu wanita paling bahagia di bumi. Karena bagiku bahagia adalah berbagi, bukan janji.

Aku tak pernah pergi meski kamu berulang kali belajar untuk meninggalkanku lagi. Aku masih memeluk harapan yang pernah aku ucapkan. Aku tak mampu menjauhkan diri dari orang yang telah terbelenggu di kalbu. Bahkan, meninggalkan kota itu masih menyisakan pilu dan rasa ingin selalu bertemu.

Hey kalian! Masih ingatkah jalan ini?

Haha. Kalau kalian lupa, akan aku ingatkan lagi. Di sini, ya persis di sini kamu dan kamu membenamkan luka di hati ini. Ya, karena saat kamu menyakiti ku pun aku masih mencintaimu. Andai bisa, aku ingin tak mengenalmu sama sekali. Sebab jatuh hati padamu membuatku tak bisa lari.

Kamu menjadi seorang pengingkar janji. Kau memilih berlalu bersama pilihan yang tak pernah aku sangka. Selamat!!! Selamat menyelamatkan dirimu sendiri. Kelak, saat ternyata dia yang kau pilih tidak lebih baik dari aku, jangan pulang untuk mengulang. Aku lebih senang kau tetap menghilang.

Mungkin suatu saat nanti kamu kembali ke tempat ini untuk sekadar menjelaskan mengapa saat itu kau memilih untuk pergi dan aku bercerita tentang kekalahanku di sini. Aku akan membiarkanmu melakukan apapun yang kamu mau. Aku tidak akan menangis lagi apalagi memaki.

Hey, aku tidak sedang balas dendam ataupun mengutuk kalian. Aku paham bahwa [di setiap tawa manten selalu ada tangis mantan](https://bluemeda.web.id/karena-jogja-adalah-dia-dan-kamu-adalah-solo/). Aku hanya mencoba memaafkan tentang masa lalu yang pernah kita lewatkan.