Ternyata Ini Siklus Dasawarsa
Sepuluh... sepuluh tahun? Sepuluh tahun rasanya.
Aku lupa, aku kira dia sudah mati! Tapi dia mengetuk lagi.
Mengetuk. Mengetuk. Rasanya sama persis. Sama! Gila.
Mereka datang bawa senyum, tapi aku lari.
Kenapa aku lari? Aku kunci pintu. Gelap.
Sepi... padahal aku benci sepi, demi Tuhan aku benci,
tapi dinding ini lebih aman dari suara-suara itu.
Egois? Mungkin.
Tujuh hari menangis. Tujuh hari!
Tumpah untuk apa? Tidak ada! Kosong!
Kepala ini berputar, berdenyut, sakit, sakit, sakit sekali tidak mau berhenti!
Tidur? Mataku nyalang.
Lututku remuk berlari entah ke mana tapi sakitnya ada di sini, di dalam!
Terus melantur... melantur...
Jembatan? Iya, jembatan di ujung sana tinggi sekali...
Berapa detik untuk sampai ke bawah?
Hah?! Tidak, tidak, tidak! Berhenti! Berisik! Pikiran apa ini?!
Dulu aku sembuh, kan? Kan?! Tolong katakan aku pernah sembuh!
Sekarang aku hancur, rata dengan tanah.
Dokter, tolong... dokter jiwa, pil, apa saja, tolong isi kekosongan ini.
Bantu aku berdiri.
Kamis.
Harus hari Kamis. Ya, Kamis.
Kamis aku akan mengelem pecahanku. Memperbaiki yang habis.
Kamis.
Itu pun... hahaha... itu pun kalau napasku sampai di hari Kamis.
Kalau aku masih ada di sini.